Selasa, 17 September 2013

Puisi : Tentang Seorang Lelaki Kecil


Tentang Seorang Lelaki Kecil
: Daladi Ahmad
Seperti katamu,
lelaki kecil itu layaknya kuning padi
yang sejatinya belumlah masak;
maka tak usahlah kaulirik
dan jangan pula sekali-sekali kaupetik
Biarlah ia nikmati sendiri tertangguhnya waktu
dalam memenuhkan isi pada bulir-bulirnya
: Lelaki kecil itu sebenarnya semata belajar tahu diri
untuk tak bertegak-tegak dalam kehampaan bulir padi
 
Lelaki kecil itu sejatinya begitu lemir nyali
maka jangan kau memintanya menghunus belati
dan mengajaknya berkelahi,
karena ia telah berkali-kali kalah dan mati
oleh keberingasan napsunya sendiri
yang selalu menyeringai di balik semak hati
 
Tak seperti yang kau lihat sebelah mata,
lelaki kecil itu sejatinya bukan tengah berdiri di ketinggian menara
dan lantas teriak demi kau dengarkan suaranya
Yang sesungguhnya adalah bahwa
ia tengah mencoba meneropong bayangannya sendiri
dari kejauhan yang tak berjarak
hingga ia pun tak mampu menerka
di titik mana bayangan itu lenyap musna
 
Tak seperti yang kaudengar dengan sebelah telinga,
lelaki kecil itu sejatinya tak bicara apa-apa tentang sesiapa
melainkan sekedar berbisik pada debu yang lewat di dekatnya
dalam bahasa sapaan sesama noktah
untuk sama-sama dan saling memahami
dari mana dan kemana pula muara angin menghembuskannya
Magelang, 2013
 

Puisi : Bisik Kecil Lelaki Kecil

Bisik Kecil Lelaki Kecil
: Daladi Ahmad
Sejatinya lelaki kecil itu tak pernah berani
dengan lekat memandangi wajah langit yang
bertaburan mata yang tak berbilang
yang selalu menatapnya tak berkesip
Dan bilapun ia mendongak ke atas
sesungguhnya ia hanya ingin menyampaikan bisik kecil
yang ia sendiri nyaris tak bisa mendengarnya;
hingga akhirnya hanya kepada debu yang melintas di dekatnya
ia memilih dan berani berbisik,
“Kubisikkan tentang sesuatu yang seharusnya kubisikkan.”
 
Tak perlu kaukuliti dan kaupanggang lelaki kecil itu
yang hanya berambut rumput kering
bertulang dahan-dahan kering
bertubuh batang pohon kering
berkaki tangan ranting kering
berjantung sepotong daging kering
bertarik dan hembus napas udara kering
 
Begitu ringkih dan rapuhnya lelaki kecil itu
hingga tak pernah mampu
meski hanya untuk sekedar meniup sebutir debu
yang menempel di ujung bibirnya sendiri
: Tak ada kemenangan yang kaudapat usai menghabisinya
 
Bila bisik kecilnya mengusik tidur siangmu,
tutuplah pintu rapat-rapat
dan kau pun tetap bisa nyaman melanjutkan mimpi indahmu
: Angin lewat takkan membuka paksa pintu tekunci
 
Bila kau tak rela mendengar bisiknya
muntahkan saja yang hendak kautumpahkan,
“Omong kosong dan bualanmu membuatku geli!”
Tapi coba kita simak yang dibisikkannya,
 “Betapa dan alangkah kecilnya aku.”
Magelang, 2013