Puisi : Bisik Kecil Lelaki Kecil
Bisik Kecil Lelaki
Kecil
: Daladi Ahmad
Sejatinya lelaki kecil itu tak pernah berani
dengan lekat memandangi wajah langit yang
bertaburan mata yang tak berbilang
yang selalu menatapnya tak berkesip
Dan bilapun ia mendongak ke atas
sesungguhnya ia hanya ingin menyampaikan bisik
kecil
yang ia sendiri nyaris tak bisa mendengarnya;
hingga akhirnya hanya kepada debu yang
melintas di dekatnya
ia memilih dan berani berbisik,
“Kubisikkan tentang sesuatu yang seharusnya
kubisikkan.”
Tak perlu kaukuliti dan kaupanggang lelaki
kecil itu
yang hanya berambut rumput kering
bertulang dahan-dahan kering
bertubuh batang pohon kering
berkaki tangan ranting kering
berjantung sepotong daging kering
bertarik dan hembus napas udara kering
Begitu ringkih dan rapuhnya lelaki kecil itu
hingga tak pernah mampu
meski hanya untuk sekedar meniup sebutir debu
yang menempel di ujung bibirnya sendiri
: Tak ada kemenangan yang kaudapat usai
menghabisinya
Bila bisik kecilnya mengusik tidur siangmu,
tutuplah pintu rapat-rapat
dan kau pun tetap bisa nyaman melanjutkan mimpi
indahmu
: Angin lewat takkan membuka paksa pintu
tekunci
Bila kau tak rela mendengar bisiknya
muntahkan saja yang hendak kautumpahkan,
“Omong kosong dan bualanmu membuatku geli!”
Tapi coba kita simak yang dibisikkannya,
“Betapa dan alangkah kecilnya aku.”
Magelang, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar