Puisi : Tentang Seorang Lelaki Kecil
Tentang
Seorang Lelaki Kecil
: Daladi Ahmad
Seperti katamu,
lelaki kecil itu layaknya kuning padi
yang sejatinya belumlah masak;
maka tak usahlah kaulirik
dan jangan pula sekali-sekali kaupetik
Biarlah ia nikmati sendiri tertangguhnya
waktu
dalam memenuhkan isi pada bulir-bulirnya
: Lelaki kecil itu sebenarnya semata belajar
tahu diri
untuk tak bertegak-tegak dalam kehampaan
bulir padi
Lelaki kecil itu sejatinya begitu lemir nyali
maka jangan kau memintanya menghunus belati
dan mengajaknya berkelahi,
karena ia telah berkali-kali kalah dan mati
oleh keberingasan napsunya sendiri
yang selalu menyeringai di balik semak hati
Tak seperti yang kau lihat sebelah mata,
lelaki kecil itu sejatinya bukan tengah
berdiri di ketinggian menara
dan lantas teriak demi kau dengarkan suaranya
Yang sesungguhnya adalah bahwa
ia tengah mencoba meneropong bayangannya
sendiri
dari kejauhan yang tak berjarak
hingga ia pun tak mampu menerka
di titik mana bayangan itu lenyap musna
Tak seperti yang kaudengar dengan sebelah
telinga,
lelaki kecil itu sejatinya tak bicara apa-apa
tentang sesiapa
melainkan sekedar berbisik pada debu yang
lewat di dekatnya
dalam bahasa sapaan sesama noktah
untuk sama-sama dan saling memahami
dari mana dan kemana pula muara angin
menghembuskannya
Magelang, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar